New Balance Menggugat Decathlon: Logo 'K' Kiprun yang Mirip Huruf N

Ringkasan

New Balance mengajukan gugatan di pengadilan federal Massachusetts pada 15 September 2026, dengan dalih bahwa logo sepatu lari Kiprun milik Decathlon merupakan huruf N yang dicerminkan, sehingga membingungkan konsumen dan melemahkan merek dagang terkenalnya. Gugatan tersebut menuntut penarikan produk, pemusnahan persediaan, serta ganti rugi setelah berbulan-bulan peringatan diabaikan. Hal ini kembali menjadi pengingat bahwa pembalikan satu huruf dan kemiripan visual terus memanfaatkan goodwill yang telah dibangun pemilik merek hingga pemilik tersebut mengambil langkah tegas untuk melindungi merek dagangnya.

New Balance asal Boston baru saja menyeret raksasa ritel Prancis, Decathlon, ke pengadilan federal terkait logo yang seharusnya berupa huruf "K", namun berakhir terlihat persis seperti huruf "N."

Pada 15 September 2026, New Balance Athletics Inc. mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Massachusetts (No. 1:26-cv-14235) terhadap Decathlon America LLC dan satu unit terkait. Sasarannya adalah merek yang ditempelkan pada sepatu lari performa Kiprun. Decathlon bersikeras bahwa desain tersebut adalah huruf K yang distilasi. New Balance menyatakan bahwa versi cermin yang muncul pada sepatu dan dalam materi pemasaran adalah "jelas-jelas sebuah N."

Gugatan tersebut tidak menggunakan kata-kata halus. New Balance telah menggunakan merek N-nya pada alas kaki sejak tahun 1970-an. Perusahaan telah menghabiskan ratusan juta dolar untuk mempromosikannya dan menjual ratusan juta pasang di seluruh dunia. Huruf tersebut merupakan salah satu aset paling berharga perusahaan. Ketika Decathlon mulai mengirimkan model Kiprun ke pasar AS awal tahun ini, pengguna media sosial langsung menyadari kemiripannya. Berbagai unggahan menyoroti kesamaan dengan seri SC Elite milik New Balance dan mempertanyakan mengapa surat peringatan penghentian pelanggaran (cease-and-desist) belum juga dikirimkan.

Mulai Pemantauan Merek

New Balance menyatakan bahwa pemberitahuan tersebut memang telah dikirim. Mulai Januari 2026, perusahaan beserta pengacaranya berulang kali meminta Decathlon untuk berhenti. Decathlon menolak, tetap berpegang pada argumen "itu adalah huruf K" meskipun menggunakan versi terbalik tersebut secara terpisah. Kedua perusahaan sebenarnya sudah memiliki hubungan komersial—afiliasi Decathlon mendistribusikan produk New Balance di berbagai pasar—sehingga penolakan tersebut terasa lebih berat.

Gugatan ini meminta perintah pengadilan (injunksi), penarikan penuh atas sepatu yang digugat, pemusnahan sisa inventaris dan materi iklan, perhitungan laba, serta ganti rugi yang akan ditentukan oleh juri. New Balance juga menuduh adanya pelanggaran yang disengaja dan pelemahan merek (dilution) berdasarkan hukum federal dan negara bagian, ditambah tuduhan penunjukan asal yang palsu dan klaim hukum umum. Salah satu poin kunci adalah kebingungan pasca-penjualan: pelari dan penonton yang nantinya melihat sepatu tersebut di jalan atau dalam foto lomba mungkin mengira itu adalah produk New Balance.

Ini bukan pertarungan pertama New Balance terkait huruf tersebut. Sebelumnya, mereka menyelesaikan kasus di AS dengan Michael Kors dan Nautica terkait desain yang mirip dengan N, serta memenangkan putusan senilai $1,5 juta di Tiongkok terhadap pembuat sepatu lokal pada tahun 2017. Polanya konsisten: perusahaan memperlakukan kerabat visual dari huruf N mereka sebagai ancaman langsung terhadap goodwill yang telah mereka bangun selama setengah abad.

Bagi Decathlon, risikonya sangat nyata. Inventaris yang sudah berada di saluran distribusi AS, materi pemasaran, dan rilis masa depan semuanya berada di bawah bayang-bayang potensi perintah injunksi dan penarikan produk. Mengganti merek (rebranding) untuk lini performa merek sendiri sangatlah mahal. Memusnahkan stok bahkan lebih buruk. Semakin lama produk tiruan tersebut tetap berada di rak toko, semakin besar tagihan yang harus dibayar nantinya.

Momen Termurah Adalah Sebelum Produk Tiruan Terlanjur Mapan

Kantor merek dagang jarang memblokir merek yang membingungkan atas inisiatif sendiri. Alasan relatif—yaitu benturan dengan hak sebelumnya—adalah tanggung jawab pemilik merek. Jangka waktu oposisi sangat singkat, biasanya tiga puluh hingga sembilan puluh hari setelah publikasi. Setelah sebuah merek terdaftar dan produk masuk ke pasar, pertempuran berpindah ke pengadilan federal, proses penemuan bukti (discovery), dan praktik injunksi. Di sinilah biaya meledak.

Kegagalan melakukan pemantauan merek dagang terhadap produk tiruan adalah cara hak melemah. Pelemahan merek (dilution) menyusup secara diam-diam. Pelanggan menjadi bingung mengenai sumber produk. Rencana ekspansi menghadapi hambatan tak terduga. Tinjauan uji tuntas (due-diligence) di kemudian hari akan mengungkap kekacauan yang sebenarnya bisa dibereskan sejak dini. Salinan persis memang jarang terjadi. Kerusakan sesungguhnya berasal dari pergeseran satu huruf, kembaran fonetik, kerabat maskot, serta kemasan atau logo yang terasa familiar sekilas—pola yang tepat seperti yang ditampilkan dalam desain Kiprun.

Melakukan monitoring merek dagang pada registri jauh lebih murah daripada melakukan rebranding mendadak di tengah jalan. Pekerjaan pemantauan merek dagang ada untuk kasus seperti ini; apa yang terjadi jika Anda menunggu tertulis jelas dalam gugatan yang baru saja mendarat di Massachusetts.

Huruf N sudah lama menjadi masalah bagi New Balance sebelum huruf K versi cermin muncul di sepatu Kiprun. Satu-satunya momen termurah adalah sebelum produk tiruan tersebut terlanjur mapan. Bagi siapa pun yang ingin memastikan keamanan aset intelektual mereka, langkah proaktif seperti cek status merek secara berkala dan memastikan kelancaran pendaftaran merek adalah kunci utama. Hanya dengan demikian, perlindungan merek yang kuat dapat tercipta sebelum sengketa hukum yang mahal terjadi.