Penerimaan terbaru oleh Mahkamah Agung AS atas petisi dari Vetements Group AG telah memicu diskusi baru mengenai doktrin setara asing dalam hukum merek dagang. Doktrin ini, yang menilai apakah kata non-Inggris dapat didaftarkan sebagai merek dagang, bergantung pada apakah konsumen cenderung menafsirkan istilah tersebut sebagai padanannya dalam bahasa Inggris. Kasus ini berputar pada apakah kata bahasa Prancis Vetements—yang berarti "pakaian"—bersifat generik, deskriptif, atau layak mendapatkan perlindungan merek dagang.
Doktrin Setara Asing dan Persepsi Konsumen
Manual Prosedur Pemeriksaan Merek Dagang (TMEP) menyatakan bahwa kata-kata asing dengan terjemahan langsung ke bahasa Inggris dapat ditolak jika hanya bersifat deskriptif atau generik. Sebagai contoh, merek seperti VEUVE ROYAL (bahasa Prancis untuk "Janda Kerajaan") ditolak pendaftarannya karena konsumen AS kecil kemungkinannya menerjemahkannya, meskipun berasal dari bahasa yang umum. Faktor kritisnya adalah apakah rata-rata konsumen Amerika akan "berhenti dan menerjemahkan" istilah tersebut.
Namun, doktrin ini tidak mutlak. Pengadilan telah memutuskan bahwa istilah dari bahasa seperti Spanyol, Prancis, atau Rusia mungkin memenuhi syarat, tetapi hanya jika mereka memenuhi kriteria tertentu. Putusan Booking.com (2020) menekankan bahwa hukum merek dagang harus mempertimbangkan bagaimana konsumen mempersepsikan sebuah merek, bukan hanya asal-usul linguistiknya. Prinsip ini menjadi pusat argumen Vetements.
Kasus Vetements: Benturan Interpretasi Hukum
Vetements mengajukan dua aplikasi merek dagang untuk marka kata Vetements dan versi bergayanya, yang mencakup pakaian dan layanan ritel. Kantor Paten dan Merek Dagang AS (USPTO) menolak marka tersebut dengan alasan bahwa istilah itu bersifat generik untuk "pakaian." Vetements membantah bahwa istilah tersebut, meskipun secara harfiah diterjemahkan sebagai "pakaian", tidak bersifat deskriptif dalam industri fashion dan telah memperoleh pengakuan melalui media serta identitas merek.
Dewan Banding Uji Coba dan Banding Merek Dagang (TTAB) mempertahankan penolakan tersebut, dengan alasan bahwa sifat generik istilah itu lebih berat daripada pengenalan mereknya. Vetements mengajukan banding ke Pengadilan Sirkuit Federal, yang mengukuhkan keputusan TTAB, menyatakan bahwa fokusnya harus pada apakah konsumen mengasosiasikan istilah tersebut dengan kategori generik. Kasus ini kini mencapai Mahkamah Agung, di mana interpretasi hukum terhadap doktrin tersebut akan diuji.
Pendekatan Berbeda di Berbagai Sirkuit
Pengadilan telah menafsirkan doktrin setara asing secara berbeda, menciptakan ketidakpastian bagi bisnis. Sirkuit Keempat, misalnya, menerapkan uji persepsi konsumen, memutuskan bahwa istilah Italia UNO (yang berarti "satu") tidak bersifat deskriptif untuk restoran pizza. Sebaliknya, Sirkuit Kedua telah mengambil pendekatan yang lebih kaku, memprioritaskan makna istilah tersebut di negara asalnya daripada perilaku konsumen.
Sirkuit Kelima juga menekankan terjemahan otomatis untuk menilai sifat deskriptif, menemukan istilah Spanyol CHUPA (yang berarti "mengisap") bersifat generik untuk lolipop. Sementara itu, TTAB telah mengakui bahwa beberapa konsumen mungkin fasih dalam bahasa yang relevan, yang mengarah pada hasil yang bertentangan dalam kasus-kasus serupa.
Implikasi bagi Strategi Merek Dagang
Hasil kasus Vetements dapat mengubah cara bisnis mendekati aplikasi merek dagang yang melibatkan istilah non-Inggris. Perusahaan kini harus menavigasi berbagai interpretasi yang terpisah-pisah, menyeimbangkan nuansa linguistik dengan persepsi konsumen. Misalnya, istilah dari bahasa umum seperti Prancis mungkin masih dianggap generik jika缺乏 keunikan di pasar.
Pemantauan merek dagang dan pendaftaran strategis sangat penting. Merek harus mengevaluasi apakah marka mereka cenderung dipersepsikan sebagai generik, deskriptif, atau distintif. Kejelasan hukum mengenai penerapan doktrin ini akan membantu bisnis menghindari penolakan yang mahal dan memastikan merek dagang mereka terlindungi.
IP Defender memantau database merek dagang nasional untuk konflik dan pelanggaran, memberikan bisnis wawasan waktu nyata tentang potensi risiko. Dengan melacak lebih dari 50 negara, termasuk Uni Eropa, AS, dan Australia, IP Defender memastikan merek tetap selangkah lebih depan dari ancaman. Layanan ini membantu perusahaan menghindari kesalahan mahal seperti yang terlihat dalam kasus Vetements, di mana kurangnya pemantauan proaktif menyebabkan tantangan hukum.
Taruhan sangatlah tinggi. Satu kelalaian saja dalam perlindungan merek dagang dapat menyebabkan kerugian finansial, pelemahan merek, dan pertempuran hukum. Dengan IP Defender, bisnis dapat mempertahankan kekayaan intelektual mereka dengan percaya diri, mengetahui bahwa merek dagang mereka berada di bawah pengawasan konstan. Baik saat meluncurkan merek baru maupun berekspansi secara internasional, strategi pemantauan yang tepat sangat penting.